3 Juta Nasabah Tutup Unit Link

Heboh! 3 Juta Nasabah Tutup Unit Link

 Asuransi Jiwa – Produk terkait investasi Unit Link Insurance (PAYDI) belakangan ini menjadi sorotan publik. Apalagi setelah kasus kerugian klien akibat buruknya tata kelola perusahaan asuransi.

Kasus kerugian investasi yang terkait dengan unit telah banyak dibahas di media berita dan media sosial. Akibatnya, banyak klien asuransi memilih untuk menarik unit link mereka.

OJK mencatat jumlah nasabah Unit Link turun dari 7 juta menjadi hanya 4,2 juta pemegang polis pada akhir tahun lalu. Artinya hampir 3 juta nasabah juga telah menutup Unit Engagement Policy di tengah dampak pandemi Covid-19.

Padahal, secara tegas OJK telah menyatakan bahwa kasus-kasus asuransi yang terkait dengan unit-unit yang diberitakan media berdampak pada industri keuangan non-bank.

OJK akan segera merilis aturan rinci dalam publikasi (SE) terkait produk asuransi terkait investasi yang juga dikenal dengan PAYDI, termasuk unit link. Keputusan ini diambil karena banyaknya pengaduan tentang produk ini ke OJK dan untuk mengurangi masalah pada produk ini, mengingat temuan OJK menunjukkan adanya indikasi penjualan produk dilakukan dengan Multi Level Marketing ( mekanisme MLM).

Berdasarkan data OJK yang diberikan selama triwulan I tahun 2021, OJK mencatat ada 273 pengaduan yang masuk terkait PAYDI.

Sementara itu, sepanjang tahun lalu, jumlah pengaduan yang masuk mencapai 593, meningkat 65% dibandingkan tahun 2019 yang mencapai 360 pengaduan.

Kepala Divisi Perlindungan Konsumen OJK Agus Zam mengungkapkan, setidaknya ada empat set pengaduan yang masuk ke OJK.

Pertama, produk jasa asuransi yang tidak sesuai dengan penawaran atau ketinggalan penjualan.

Kedua, hasil investasi yang lebih rendah dari produk PAYDI.

Ketiga, tuntutan pengembalian premi asuransi yang telah dibayar lunas dan keempat, sulitnya mengajukan klaim, meskipun polis sudah habis masa berlakunya.

TRENDING;  Penjelasan OJK Mengenai, Beli Unit Link Harus Punya SID?

Hal ini harus dihindari, kata Agus, agar pemegang polis tidak dirugikan di kemudian hari. Untuk itu, OJK menjaga agar pemegang polis memahami dengan baik produk investasi apa yang dibeli, termasuk produk PAYDI atau unit link.

“Pelaku usaha harus memastikan bahwa agen tidak mengharuskan konsumen untuk menandatangani formulir aplikasi asuransi kosong. Proses lelang harus didokumentasikan dengan baik,” kata Agus pada konferensi pers baru-baru ini oleh Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI).

Tidak berhenti di situ, pro dan kontra terus terjadi. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) membantah telah terjadi penutupan polis produk unit-related selama setahun terakhir, yang terjadi adalah penurunan penjualan unit-related akibat pandemi Covid-19.

Sebelumnya 3 Juta Nasabah Tutup Unit Linkmembantah data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menyebutkan bahwa selama setahun terakhir terjadi penurunan kebijakan nasabah untuk unit link dari 7 juta dokumen menjadi 4,2 juta dokumen, atau turun hampir 3 juta atau 2,8 juta. kebijakan. .

Direktur Eksekutif Lembaga, Tojar Basaribo, mengatakan pandemi COVID-19 berdampak negatif pada penjualan asuransi.

“Bukan policy shutdown, tapi penurunan penjualan. Ya, penjualan pasti turun karena situasi Covid,” kata Tujar

Tujar menjelaskan, jumlah polis individu, menurut data Arab American Institute for Investment Research, saat ini berjumlah lebih dari 18 juta polis. Ketika digabungkan dengan kebijakan kelompok, jumlahnya mencapai lebih dari 60 juta.

Selain itu, Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non-Perbankan OJK 2A, Ahmed Nasrallah, juga berbicara dalam dialog online bertajuk “Unit terkait produk asuransi dan pengawasan OJK” di Jakarta, Rabu (21/4/2021) dan

Ahmed mengatakan jumlah PYDI (produk asuransi terkait investasi) termasuk unit link menurun akibat situasi Covid-19 pada 2020, sehingga banyak yang tidak melanjutkan polisnya.

TRENDING;  Menggenjot Premi, Perusahaan Asuransi Jiwa Gencar Meluncurkan Produk Baru

Di tahun 2020, banyak yang tidak melanjutkan penggunaan produk ini, atau sudah kadaluarsa. Tidak banyak pelanggan baru.”

Namun, meski terkena dampak pandemi, nilai aset asuransi secara keseluruhan terus meningkat, meski tidak sebanyak tahun sebelumnya.